Rabu, 20 Januari 2010

Pendidikan: Senjata Terhebat dan Pekerjaan Terpenting

Oleh: Wahyu Awaludin

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

-Q.S At-Taubah:122-

“Pendidikan adalah senjata paling hebat yang bisa kau gunakan untuk mengubah dunia”
-Nelson Mandela-

Pendidikan dan Para Pemimpin Perjuangan
Sejarah perjalanan bangsa-bangsa di dunia yang begitu beragam menunjukkan satu pola menarik. Pola itu tersembunyi bagi sebagian orang, tapi bagi yang ingin menelaah, pola itu terlihat sangat jelas, yakni bagaimana sebuah pendidikan adalah jembatan emas pertama menuju kemerdekaan. Buktinya bertebaran dalam sejarah dunia. Tengoklah bagaimana Kebangkitan Nasional Indonesia diawali oleh politik Etis yang memunculkan kaum terpelajar generasi pertama, yaitu Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Wahidin Sudirohusodo, dan lain-lain. Lihatlah Jose Rizal sang pelopor perjuangan Filipina dan juga Emilio Aqunialdo sang penggantinya. Perhatikanlah Sun Yat Sen dari negeri Tiongkok, juga Gandhi, Nehru, Liquat Ali Khan, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan para pejuang kemerdekaan lainnya. Mereka semua adalah para intelektual dan mereka adalah para pemimpin bangsanya menuju kebebasan.
Pendidikan membuka pikiran kaum muda terhadap ide-ide. Sejarah menunjukkan bahwa ide-ide yang berasal dari kaum terpelajar itu bertebaran ke pelosok negeri, lalu memunculkan fase selanjutnya, yakni retaknya masyarakat –meminjam istilah Paulo Freire-, yakni masyarakat yang “mulai menggeliat dan kritis”. Para intelektual itu membuka wawasan bangsanya masing-masing, menyusun rencana matang-matang dan menggalang dukungan sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, masyarakat yang sudah “retak” itu akan “pecah”. Kekuatan dahsyat yang selama ini tersembunyi tumpah ruah bagaikan halilintar yang menyambar-nyambar. Selanjutnya puting beliung peperangan mahahebat antara penjajah dan yang dijajah akan berkecamuk dan pasti berakhir pada kemenangan bangsa yang tertindas.
Muhammad Hatta mengatakan bahwa “kemerdekaan adalah suatu keniscayaan, suatu keharusan zaman. Yang berbeda-beda dari satu bangsa dan bangsa lain adalah waktunya dan caranya”. Mengutip perkataan Hatta di atas, maka kemerdekaan Palestina dari penjajahan Zionis Isreal adalah “keniscayaan zaman”, denting takdir yang tak perlu lagi diragukan kebenarannya. Maka yang perlu dilakukan adalah berjuang menggapai kemerdekaan itu walau dengan kucuran keringat dan darah. Oleh karena itulah, pendidikan untuk para pemuda Palestina menjadi salah satu agenda super mendesak yang perlu didiskusikan lebih lanjut oleh komunitas internasional. Dalam konteks ini, program beasiswa 1 milyar + 30 juta menjadi salah satu kunci penting dalam program “pendidikan Palestina demi kemerdekaan”.

Peduli Pendidikan Palestina
Pendidikan yang mampu membawa Palestina menuju kemerdekaan adalah pendidikan yang bisa melahirkan para pemimpin-pemimpin Palestina yang paling berani ketika menghadapi musuh dan juga yang paling takut ketika menghadap Allah. Juga para pemimpin yang rela menyerahkan harta, jiwa, dan raganya untuk negeri dan agamanya. Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang berhati baja, tidak cengeng, mampu berdiplomasi dengan cerdas, jujur, mempunyai visi melebihi zamannya, dan dapat dipercaya. Maka, untuk mencapai itu, ada dua hal yang setidaknya patut diperhatikan secara cermat:
Pertama, sistem pendidikan. Hendaknya sistem pendidikan ini disusun dengan hati-hati dan melibatkan seluruh pihak dan didukung baik oleh pemerintah dan lainnya –yang salah satu caranya adalah memberi akses kepada kurang lebih 5 mahasiswa Palestina/tahun untuk belajar di negeri masing-masing dengan biaya nol. Sistem pendidikan yang ada haruslah menjangkau semua rakyat Palestina. Dalam program beasiswa 1 milyar + 30 juta ini, negeri-negeri Islam harus mendukung penuh dengan dukungan nyata. Adalah ide menarik jika dalam Konferensi Internasional untuk Palestina nanti diikrarkan semacam “Sumpah Pendidikan” dimana semua pihak yang hadir menandatangani “perjanjian” untuk komitmen membantu pendidikan Palestina. Atau, alangkah lebih bagusnya jika konferensi itu sekaligus digunakan untuk menyusun rencana garis besar “pendidikan Palestina demi kemerdekaan” ini dan menyusun panitia program 1 milyar + 30 juta. Panitia ini nantinya bertanggung jawab atas program di atas.
Seyogyianya, visi “pendidikan Palestina demi kemerdekaan” ini disusun dengan spirit kebebasan. Sistem pendidikan yang tersusun nanti haruslah mengandung spirit itu, yakni spirit kebebasan dimana para pemuda Palestina yang diberi beasiswa harus menanamkan benar-benar dalam jiwanya bahwa dia mempunyai tugas untuk membebaskan bangsanya dari tangan iblis Israel, tapi sebelum itu ia harus membebaskan dirinya terlebih dahulu dari ketergantungan kepada manusia menuju ketergantungan terhadap Allah –seperti yang dilakukan Rasulullah kepada para sahabatnya.
Yang perlu digarisbawahi, kurikulum pendidikan ini seharusnya “membumi” dan kontekstual dengan kondisi Palestina sekarang. Tidak perlu mengawang tapi penting untuk tetap berpandangan jauh ke depan. Pemuda-pemuda Palestina yang menerima beasiswa harus menyadari kondisi ini dan mempunyai visi tajam tentang masadepan bangsanya.
Kedua, proses pembelajaran. Dalam prakteknya nanti, para pemuda Palestina yang diberikan beasiswa haruslah mengikuti proses pembelajarannya di negeri seberang dengan serius. Panitia harus terus mendampingi mahasiswa Palestina yang sedang berjihad (baca: menuntut ilmu) di negeri mereka. Para mahasiswa Palestina ini sebaiknya bergaul dan terus berkoordinasi dengan unsur-unsur mahasiswa lain yang ada di kampus tempatnya berjihad untuk bertukar pikiran dan menajamkan intelektualitas.
Selain kuliah formal di bidang masing-masing, panitia sebaiknya merancang semacam “program pencerdasan” yang harus diikuti mahasiswa Palestina. Program ini bisa dibentuk lewat forum ilmiah, debat, seminar, dan lain-lain –semacam kuliah informal. Program ini haruslah didukung oleh banyak pihak. Misalnya di Indonesia, “program pencerdasan” ini bisa didukung oleh MUI, ormas-ormas Islam, LSM-LSM, lembaga-lembaga kepemimpinan semisal PPSDMS dan lain-lain (saya pribadi menyarankan PPSDMS menyediakan 1-2 bangku untuk mahasiswa Palestina). Program pencerdasan ini haruslah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menajamkan intelektual, mematangkan emosional, dan menjernihkan spiritual mahasiswa Palestina. Hal ini seperti apa yang oleh John Dewey disebutnya sebagai tujuan prinsipil dari pendidikan yaitu untuk menanamkan sikap dan kebiasan yang kondusif pada diri siswa guna mengembangkan kapasitas mereka dalam menyelesaikan problem yang ada. Hal ini penting agar mahasiswa Palestina mampu berpikir mandiri untuk menciptakan cara demi menyelesaikan masalah bangsanya.
Terakhir, Tan Malaka pernah menulis di dalam buku “Dari Penjara ke Penjara” bahwa bagi dirinya, mendidik anak-anak Indonesia adalah pekerjaan tersuci dan terpenting. Memodifikasi sedikit, saya kini mengatakan bahwa mendidik pemuda-pemuda Palestina adalah pekerjaan tersuci dan terpenting demi kemerdekaan Palestina.
Sumber: http://terbangkelangit.multiply
Esai ini mendapatkan Juara I dalam lomba "Pendidikan Untuk Kemerdekaan Palestina" yang diadakan SALAM UI

0 komentar: