Rabu, 20 Januari 2010

Penegasan Pemerintah Tentang UN 2010


Menteri Pendidikan Muhammad Nuh menegaskan Ujian Nasional (UN) harus tetap dilaksanakan Maret mendatang. Walau bukan satu-satunya syarat kelulusan UN dinilai sebagai solusi terbaik untuk mengukur standar mutu pendidikan di seluruh Indonesia.

Hal itu diungkapkan Mendiknas saat mengadiri silaturahmi di pondok Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM), Takeran, Magetan, Jawa Timur, Minggu (10/1). Menurut Nuh dengan standar nilai UN di sekolah setingkat SMA, pemerintah diharapkan bisa mengukur tingkat keberhailan dan mutu pendidikan di Indonesia.

Menanggapi kritik sejumlah kalangan terhadap kontroversi UN di Indonesia, M Nuh mengatakan selain sebagai tolak ukur mutu dan salah satu syarat kelulusan, UN juga dapat digunakan untuk mengevaluasi mutu pendidikan di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Mendiknas menyangkal keputusan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk menyilang siswa antarsekolah dalam UN 2010. “Tidak akan ada mutasi atau oper siswa dalam mekanisme pelaksanaan UN 2010, yang ada hanya silang guru atau pengawas seperti pelasanaan UN sebelumnya,” ujar M Nuh.(sumber:http://ujiannasional.org)

UN 2010 Menerapkan Sistem Silang


Mantan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. mengatakan, dalam penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) 2010 mendatang, sistem silang antarsekolah akan diterapkan untuk para peserta UN dari kalangan SMA dan MA.

“Dalam penyelenggaraan UN tahun-tahun sebelumnya, sistem silang bsnp-logo.jpgantarsekolah diterapkan untuk pengawas UN yang berasal dari guru, sedangkan untuk tahun ini justru murid-murid peserta UN yang akan disilang dengan sekolah lain,” katanya, Rabu (11/11).

Ia mengatakan, dengan sistem silang tersebut dapat dipastikan tidak ada peserta yang mengerjakan soal UN di sekolahnya sendiri, namun sistem silang tersebut akan diterapkan antarsekolah yang tidak berjarak terlalu jauh untuk memudahkan para siswa.

Nantinya, kata dia, sekolah-sekolah akan dikelompokkan berdasarkan wilayah tertentu. Setiap kelompok akan berisi 4-5 sekolah dan sistem silang antar-sekolah itu akan diterapkan dalam masing-masing kelompok untuk memudahkan peserta dalam mengikuti UN.

“Apabila peserta UN disilang dengan sekolah lain yang berjarak relatif jauh, tentunya akan kesulitan, baik dalam hal transportasi maupun biaya, sehingga dikhawatirkan akan menyulitkan dan membebani mereka,” kata dia.

Menurut dia, sistem silang itu hanya diterapkan untuk siswa SMA dan MA, sementara peserta UN dari SMA Luar Biasa (SMALB), SMK, SMP tetap melangsungkan UN seperti sistem yang digunakan pada tahun lalu, yang menerapkan silang antar-sekolah untuk pengawas.

Berkaitan dengan penyilangan peserta UN untuk SMA dan MA tersebut, ia mengatakan, dalam praktiknya nanti kemungkinan akan ada siswa SMA dan MA yang mengerjakan soal UN dalam satu ruangan, namun menurut dia hal itu tidak akan menyulitkan distribusi soal.

“Materi UN untuk SMA dan MA sama persis untuk bidang IPA dan IPS, kecuali untuk siswa MA yang mengambil jurusan keagamaan, namun nantinya akan dibuat suatu sistem yang mengatur tentang distribusi soal untuk mengatasi kesulitan semacam itu,” katanya.

Ditanya tentang alasan penerapan sistem silang antarsekolah untuk peserta UN itu, ia mengatakan, sistem tersebut diterapkan untuk meminimalisasi tindak kecurangan yang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah yang banyak ditemui dalam pelaksanaan UN tahun sebelumnya.

“Dengan sistem itu, para siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat, karena masing-masing peserta tidak mengenal satu sama lain, sehingga potensi tindak kecurangan dengan bekerja sama dalam mengerjakan soal akan berkurang,” kata Mungin.

Kiat Sukses UAN


Walaupun pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2010 masih beberapa bulan lagi tetapi memahami kita suksesnya harus segera dilakukan. Standar Kelulusan UN untuk semua tingkatannya tampaknya akan naik. Disamping itu adanya wacana tentang Integrasi UN – SNMPTN yang semakin menemukan titik terang.

Kiat Sukses untuk Guru Pembimbing
Setiap tahun pelaksanaan UN memang selalu menjadi pembicaraan hangat bahkan kontroversi karena masih terdapat tindak kecurangan atau penyelewengan dalam pelaksaanaan UN, misalnya jual-beli soal atau jawaban yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Polemik makin berkepanjangan ketika banyak siswa yang tidak lulus UN, apalagi siswa-siswa yang tidak lulus tersebut adalah siswa-siswa yang berprestasi di sekolahnya.

Nilai UN yang dijadikan sebagai kunci apakah siswa lulus atau tidak setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun memang menjadi hal yang dilematis bagi sekolah dan dinas yang terkait. Di satu sisi, ini merupakan sebuah program dalam meningkatkan kualitas kompetensi lulusan. Namun, di sisi lain, bila input siswa yang dimiliki kemampuannya minim, ditambah fasilitas yang kurang memadai dan kondisi-kondisi lainnya yang kurang menunjang untuk peningkatan kualitas siswanya, maka kekhawatiran akan hasil UN yang mengakibatkan banyaknya siswa tidak lulus adalah sangat beralasan.

Banyaknya siswa yang tidak lulus akan memengaruhi kredibilitas sekolah di mata masyarakat yang akan berdampak pada menurunnya minat orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Alhasil sekolah pun harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hasil UN. Di antara sekian strategi yang bisa dilakukan adalah, pertama, meningkatkan motivasi siswa. Motivasi adalah dorongan yang ada dalam diri seeorang. Bila seseorang memiliki motivasi tinggi maka seberat apa pun tantangan yang ada di hadapannya akan mampu ia atasi. Karena itu, menumbuhkan motivasi yang tinggi di siswa adalah langkah awal yang harus dilakukan.

Tentu saja tidak mudah untuk menumbuhkan motivasi atau gairah belajar yang tinggi di siswa ini. Diperlukan pendekatan khusus, mungkin bisa dimulai dengan pengklasifikasian siswa dari siswa yang memiliki high motivation sampai yang low motivation, lalu dibuat progress report-nya.

Lakukan proses penanganan per siswa, terutama yang memiliki motivasi belajar kurang sampai kemudian motivasi belajarnya itu muncul. Pendekatan psikologis secara personal di luar jam pelajaran dengan suasana yang rileks dan nyaman perlu dilakukan sehingga ada kedekatan dan keterbukaan antara siswa dan guru.

Strategi kedua, mengubah sistem pembelajaran. Sistem pembelajaran dalam menghadapi UN tentu saja harus berbeda dengan sistem pembelajaran sehari-hari. Selain pemberian materi juga diadakan pembahasan soal-soal, bahkan setiap akhir minggu atau akhir bulan sebaiknya dilakukan try out untuk mengukur sampai di mana kompetensi yang telah dikuasai siswa.

Pembelajaran akan lebih mudah kalau menggunakan sistem kerja tim untuk guru dan sistem kelompok belajar untuk siswa. Kelompok siswa ditentukan oleh nilai hasil try out. Siswa yang mendapat nilai di atas standar disatu-kelompokkan dan yang kurang dibuat kelompok yang lain. Dampak negatifnya siswa yang dalam kelompok kurang akan merasa tersisih, tapi ini bisa disiasati dengan memberikan dukungan dan motivasi bahwa mereka mampu dan mereka pun dituntut untuk masuk ke kelompok yang mendapat nilai bagus. Pembuatan kelompok ini dilakukan untuk mempermudah pembahasan terhadap materi pelajaran yang tidak di kuasai siswa.

Ketiga, meminta dukungan dari orang tua siswa. Sekolah harus terus berkoordinasi dengan orang tua mengenai program-program dalam mempersiapkan UN. Diharapkan partisipasi orang tua secara aktif dalam membantu anak-anaknya terutama dalam pemberian motivasi dan pengawasan belajar di rumah.

Keempat, berdoa. Doa merupakan perwujudan permohonan seseorang kepada Allah agar diberi kemudahan. Efek dari doa juga melahirkan ketenangan dan ketawakalan. Ini penting karena dalam persiapan dan pelaksaan UN kondisi ketenangan berpengaruh dalam proses pengisian soal. Karena itu, dorong siswa agar lebih memperbanyak doa.

Mudah-mudahan dengan langkah-langkah di atas pelaksanaan UN memberikan pelajaran yang berharga bagi siswa, tidak hanya mendapat nilai yang sesuai dengan standar kelulusan, tapi juga merasakan bagaimana sikap harus bekerja keras untuk memperoleh sesuatu dan juga meningkatkan sikap takwa.

Terlepas dari itu, menurut penulis sebaiknya kelulusan seorang siswa tidak hanya ditentukan oleh nilai UN yang hanya diwakili oleh beberapa mata pelajaran. Alangkah lebih baiknya kalau kelulusan ditentukan melalui beberapa indikator, di antaranya hasil nilai UN, nilai rata-rata akhir semua mata pelajaran, prestasi ekstrakurikuler, dan sikap siswa baik secara mental maupun perilaku. Semoga pendidikan kita bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Oleh : Dra. Eva Fauziah Dewanti dan Drs. Asep Dewanto, SH

Pendidikan: Senjata Terhebat dan Pekerjaan Terpenting

Oleh: Wahyu Awaludin

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

-Q.S At-Taubah:122-

“Pendidikan adalah senjata paling hebat yang bisa kau gunakan untuk mengubah dunia”
-Nelson Mandela-

Pendidikan dan Para Pemimpin Perjuangan
Sejarah perjalanan bangsa-bangsa di dunia yang begitu beragam menunjukkan satu pola menarik. Pola itu tersembunyi bagi sebagian orang, tapi bagi yang ingin menelaah, pola itu terlihat sangat jelas, yakni bagaimana sebuah pendidikan adalah jembatan emas pertama menuju kemerdekaan. Buktinya bertebaran dalam sejarah dunia. Tengoklah bagaimana Kebangkitan Nasional Indonesia diawali oleh politik Etis yang memunculkan kaum terpelajar generasi pertama, yaitu Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Wahidin Sudirohusodo, dan lain-lain. Lihatlah Jose Rizal sang pelopor perjuangan Filipina dan juga Emilio Aqunialdo sang penggantinya. Perhatikanlah Sun Yat Sen dari negeri Tiongkok, juga Gandhi, Nehru, Liquat Ali Khan, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan para pejuang kemerdekaan lainnya. Mereka semua adalah para intelektual dan mereka adalah para pemimpin bangsanya menuju kebebasan.
Pendidikan membuka pikiran kaum muda terhadap ide-ide. Sejarah menunjukkan bahwa ide-ide yang berasal dari kaum terpelajar itu bertebaran ke pelosok negeri, lalu memunculkan fase selanjutnya, yakni retaknya masyarakat –meminjam istilah Paulo Freire-, yakni masyarakat yang “mulai menggeliat dan kritis”. Para intelektual itu membuka wawasan bangsanya masing-masing, menyusun rencana matang-matang dan menggalang dukungan sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, masyarakat yang sudah “retak” itu akan “pecah”. Kekuatan dahsyat yang selama ini tersembunyi tumpah ruah bagaikan halilintar yang menyambar-nyambar. Selanjutnya puting beliung peperangan mahahebat antara penjajah dan yang dijajah akan berkecamuk dan pasti berakhir pada kemenangan bangsa yang tertindas.
Muhammad Hatta mengatakan bahwa “kemerdekaan adalah suatu keniscayaan, suatu keharusan zaman. Yang berbeda-beda dari satu bangsa dan bangsa lain adalah waktunya dan caranya”. Mengutip perkataan Hatta di atas, maka kemerdekaan Palestina dari penjajahan Zionis Isreal adalah “keniscayaan zaman”, denting takdir yang tak perlu lagi diragukan kebenarannya. Maka yang perlu dilakukan adalah berjuang menggapai kemerdekaan itu walau dengan kucuran keringat dan darah. Oleh karena itulah, pendidikan untuk para pemuda Palestina menjadi salah satu agenda super mendesak yang perlu didiskusikan lebih lanjut oleh komunitas internasional. Dalam konteks ini, program beasiswa 1 milyar + 30 juta menjadi salah satu kunci penting dalam program “pendidikan Palestina demi kemerdekaan”.

Peduli Pendidikan Palestina
Pendidikan yang mampu membawa Palestina menuju kemerdekaan adalah pendidikan yang bisa melahirkan para pemimpin-pemimpin Palestina yang paling berani ketika menghadapi musuh dan juga yang paling takut ketika menghadap Allah. Juga para pemimpin yang rela menyerahkan harta, jiwa, dan raganya untuk negeri dan agamanya. Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang berhati baja, tidak cengeng, mampu berdiplomasi dengan cerdas, jujur, mempunyai visi melebihi zamannya, dan dapat dipercaya. Maka, untuk mencapai itu, ada dua hal yang setidaknya patut diperhatikan secara cermat:
Pertama, sistem pendidikan. Hendaknya sistem pendidikan ini disusun dengan hati-hati dan melibatkan seluruh pihak dan didukung baik oleh pemerintah dan lainnya –yang salah satu caranya adalah memberi akses kepada kurang lebih 5 mahasiswa Palestina/tahun untuk belajar di negeri masing-masing dengan biaya nol. Sistem pendidikan yang ada haruslah menjangkau semua rakyat Palestina. Dalam program beasiswa 1 milyar + 30 juta ini, negeri-negeri Islam harus mendukung penuh dengan dukungan nyata. Adalah ide menarik jika dalam Konferensi Internasional untuk Palestina nanti diikrarkan semacam “Sumpah Pendidikan” dimana semua pihak yang hadir menandatangani “perjanjian” untuk komitmen membantu pendidikan Palestina. Atau, alangkah lebih bagusnya jika konferensi itu sekaligus digunakan untuk menyusun rencana garis besar “pendidikan Palestina demi kemerdekaan” ini dan menyusun panitia program 1 milyar + 30 juta. Panitia ini nantinya bertanggung jawab atas program di atas.
Seyogyianya, visi “pendidikan Palestina demi kemerdekaan” ini disusun dengan spirit kebebasan. Sistem pendidikan yang tersusun nanti haruslah mengandung spirit itu, yakni spirit kebebasan dimana para pemuda Palestina yang diberi beasiswa harus menanamkan benar-benar dalam jiwanya bahwa dia mempunyai tugas untuk membebaskan bangsanya dari tangan iblis Israel, tapi sebelum itu ia harus membebaskan dirinya terlebih dahulu dari ketergantungan kepada manusia menuju ketergantungan terhadap Allah –seperti yang dilakukan Rasulullah kepada para sahabatnya.
Yang perlu digarisbawahi, kurikulum pendidikan ini seharusnya “membumi” dan kontekstual dengan kondisi Palestina sekarang. Tidak perlu mengawang tapi penting untuk tetap berpandangan jauh ke depan. Pemuda-pemuda Palestina yang menerima beasiswa harus menyadari kondisi ini dan mempunyai visi tajam tentang masadepan bangsanya.
Kedua, proses pembelajaran. Dalam prakteknya nanti, para pemuda Palestina yang diberikan beasiswa haruslah mengikuti proses pembelajarannya di negeri seberang dengan serius. Panitia harus terus mendampingi mahasiswa Palestina yang sedang berjihad (baca: menuntut ilmu) di negeri mereka. Para mahasiswa Palestina ini sebaiknya bergaul dan terus berkoordinasi dengan unsur-unsur mahasiswa lain yang ada di kampus tempatnya berjihad untuk bertukar pikiran dan menajamkan intelektualitas.
Selain kuliah formal di bidang masing-masing, panitia sebaiknya merancang semacam “program pencerdasan” yang harus diikuti mahasiswa Palestina. Program ini bisa dibentuk lewat forum ilmiah, debat, seminar, dan lain-lain –semacam kuliah informal. Program ini haruslah didukung oleh banyak pihak. Misalnya di Indonesia, “program pencerdasan” ini bisa didukung oleh MUI, ormas-ormas Islam, LSM-LSM, lembaga-lembaga kepemimpinan semisal PPSDMS dan lain-lain (saya pribadi menyarankan PPSDMS menyediakan 1-2 bangku untuk mahasiswa Palestina). Program pencerdasan ini haruslah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menajamkan intelektual, mematangkan emosional, dan menjernihkan spiritual mahasiswa Palestina. Hal ini seperti apa yang oleh John Dewey disebutnya sebagai tujuan prinsipil dari pendidikan yaitu untuk menanamkan sikap dan kebiasan yang kondusif pada diri siswa guna mengembangkan kapasitas mereka dalam menyelesaikan problem yang ada. Hal ini penting agar mahasiswa Palestina mampu berpikir mandiri untuk menciptakan cara demi menyelesaikan masalah bangsanya.
Terakhir, Tan Malaka pernah menulis di dalam buku “Dari Penjara ke Penjara” bahwa bagi dirinya, mendidik anak-anak Indonesia adalah pekerjaan tersuci dan terpenting. Memodifikasi sedikit, saya kini mengatakan bahwa mendidik pemuda-pemuda Palestina adalah pekerjaan tersuci dan terpenting demi kemerdekaan Palestina.
Sumber: http://terbangkelangit.multiply
Esai ini mendapatkan Juara I dalam lomba "Pendidikan Untuk Kemerdekaan Palestina" yang diadakan SALAM UI